Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Korban Tes, Stress Berat Gara-gara Hari Pernikahan Di Undur

Batal menikah

Dikutip dari postingan dari salah satu grup Facebook yang di-posting oleh Wahyu Wijayanto tanggal 6 Agustus 2021, seorang wanita yang tidak disebutkan identitasnya mengalami stress setelah pernikahannya diundur gara-gara calon pengantin prianya dinyatakan positif (+) covid setelah dilakukan tes kesehatan. 


Dalam postingan itu dituliskan :

Korban tas...tes...tos....

Stres berat gara-gara hari pernikahan diundur, disebabkan calon pengantin pria "dinyatakan" (+) kopet. 

Tes kopet menjadi syarat wajib sebelum nikah, dan banyak yg terpaksa ditunda/diundur hari pernikahan karena salah satu dari kedua anggota keluarga pria atau wanitanya ada yg "dinyatakan (+) kopet.


Ini jg terjadi di daerah sy.


Pemunduran pernikahan, bukanlah pertama kalinya terjadi. Dibeberapa daerah di kota lain juga banyak mengalami nasib yang serupa. Beberapa kali pengantin dan keluarga pengantin harus melakukan re-schedule ulang tanggal dan hari pernikahan mereka setelah ada himbauan dari pemerintah untuk menghentikan aktivitas publik.


Bahkan, dengan adanya penerapan PPKM beberapa pengantin harus menelan pil pahit, untuk membatalkan acara pernikahan bahkan setelah undangan disebarkan kepada kerabat, sahabat dan handai taulan. 


Yang punya rencana hajatan harus lebih banyak berhati-hati menetapkan kapan waktu yang terbaik untuk menggelar acara-acara penting tak terkecuali acara pernikahan dan resepsi.


Beberapa orang harus membuang uang dengan cuma-cuma akibat pembatalan atau pengunduran hari dan waktu gelaran acara.


Kita tahu, kondisi sekarang ini tidak mudah, tidak pasti dan tidak menentu. Situasi bisa dengan sangat mudah berubah dan pemerintah dengan segera bisa saja mengubah aturan dimasyarakat demi menekan penyebaran virus covid-19. 


Siapa menyangka, pernikahan yang direncanakan jauh-jauh hari, dalam hitungan detik bisa batal karena salah satu calon pengantin yang tadinya yakin sehat, setelah di tes covid bisa dinyatakan positif (+) copid. Hari ini sehat dan tanpa ada gejala apa-apa yang dirasakan oleh kedua calon pengantin bahkan anggota keluarga. Tiba menjelang hari H, setelah dilakukan tes covid untuk memenuhi persyaratan melakukan acara, tak di sangka salah satu ada yang dinyatakan positif (+). 


Bila salah satu dari pengantin ada yang dinyatakan positif oleh alat tes covid, untuk mencegah penularan semakin meluas, acara pernikahan pun tidak bisa dilanjutkan atau batal. Atau mengatur tanggal ulang pernikahan berlangsung. Tidak mungkin salah satu dikarantina dan salah satu berada dalam acara lalu dilakukan secara online.


Jika hal itu sudah terjadi, yang sudah dari jauh-jauh hari telah dipersiapkan, tiba-tiba batal dan minta dimundurkan tentu akan sangat merugi. Dari segi biaya pun, tentu akan berimbas, baik kepada kedua calon mempelai maupun keluarga calon mempelai. Menggelar sekali hajatan saja bukanlah biaya yang murah / sedikit. Apalagi undangan yang sudah disebar dalan jumlah yang banyak. 


Di samping itu, pengantin dan keluarga pengantin akan mengalami beban moral. Apalagi dengan beragam budaya dan paradigma di masyarakat, yang sangat mempengaruhi psikis calon pengantin. Banyak tanggapan di masyarakat yang harus didengarkan. Syukur-syukur jika tanggapan positif. Tidak sedikit masyarakat akan menyalahkan bahkan membully calon pengantin dengan tudingan yang macam-macam dan pandangan yang tidak-tidak. Yang begini ini yang membuat calon pengantin sangat ketakutan  dan jangan sampai terjadi batal menikah.


Barangkali, itulah yang dialami pengantin tersebut. Undangan sudah tersebar kemana-mana, gedung sudah dipesan dan dibayar atau di DP, sudah pesan catering, bridal dan lain-lain sudah dipesan, jika tiba-tiba batal, berapa kerugian yang ditanggung.


Apalagi kalau pembuat hajatan bukan dari keluarga yang mapan, kaya. Bagaimana mau menutupi biaya yang sudah dikeluarkan, sementara untuk mereskedule tanggal yang baru akan tetap menelan biaya. Tapi itulah fakta dan banyak terjadi sekarang ini.


Di daerah kami, ada pengalaman yang lebih pahit dari pada yang terjadi di desa Kulurejo. Semua undangan yang sudah berjalan dibatalkan karena calon pengantin perempuan dinyatakan positif (+) covid. Kemudian di buatlah skedul ulang di bulan berikutnya.


Tapi apa daya, belum selesai bulan pertama awal rencana pernikahan, ibunya kemudian meninggal tepat di tanggal rencana pernikahan mereka sebelum di skedul ulang.


Perpanjangan demi perpanjangan PPKM darurat telah banyak membatalkan rencana pernikahan dan acara-acara penting lainnya. Pun demikian dengan diadakannya tes covid, yang membuat orang tidak bergejala sekalipun harus siap menerima kenyataan jika alat tes copid menyatakan mereka "positif (+) covid maka siap tidak siap harus rela membatalkan atau menunda acara pernikahan mereka.


Suatu hari saya pergi ke pasar. Kebetulan pasar lagi sepi pengunjung /pembeli. Kami sempatkan bercerita di lapak seorang ibu-ibu penjual yang kebetulan penjual sayur. Biasalah, sedang bersama rombongan para ibu gosiper, kita juga ikut nimbrung sebagai pendengar.


Lalu ibu itu menceritakan sebuah kisah yang juga dialami oleh calon pengantin yang akan menikah. Pada saat acara mau digelar, calon pengantin dan keluarga serta para undangan sudah pada berdatangan untuk menghadiri undangan pernikahan yang akan dilangsungkan pada hari itu.


Tiba-tiba petugas datang memberitahukan bahwa acara tidak dapat dilanjutkan di gedung tersebut. Kalau mau lanjut harus cari tempat lain yang tidak berada disekitaran pusat kota.


Saya yakin, yang punya hajatan pasti kaget dan takut. Bagaimana tidak, para tamu undangan sudah berdatangan. Sebagian lagi sedang menuju tempat diadakannya pesta. Karena acara tidak boleh dilangsungkan di gedung itu, maka yang punya hajatan harus sibuk untuk menghubungi para tamu undangannya yang belum tiba dan memberitahu bahwa hari itu juga lokasi dipindahkan ketempat lain.


Bisa bayangkan, semua panik dan kucar-kacir. Beruntung yang punya acara dikasih opsi untuk pindah tempat sehingga acara tidak harus dibubarkan saat itu. Sehingga acara pernikahan pun bisa terlaksana walaupun disertai dengan spot jantung.


Hal yang demikian, yang kejadiannya mirip-mirip sudah banyak terjadi dengan adanya covid ini. Ada yang tetap bisa dilanjutkan walaupun harus sport jantung, dan ada juga yang terpaksa harus dibatalkan. 


Sebelum memutuskan tanggal pernikahan atau acara apapun, alangkah baiknya pelajari terlebih dahulu status zona masing-masing daerah. Dan pelajari perkembagan situasi saat ini. Dan lebih penting, serahkan rencana kalian kepada Tuhan supaya apa yang terbaik itu yang kalian raih dan dapatkan.



Post a Comment for "Korban Tes, Stress Berat Gara-gara Hari Pernikahan Di Undur"